Perjalanan menghafal Al-Qur'an dimulai dengan menambah hafalan baru (ziyadah) melalui metode talaqqi, yaitu anak mendengarkan bacaan guru, kemudian menirukan hingga bacaan dan hafalannya benar. Target hafalan tidak disamaratakan, tetapi disesuaikan dengan perkembangan setiap anak berdasarkan capaian sebelumnya. Dengan cara ini, setiap anak memiliki kesempatan untuk terus berkembang sesuai potensinya. Hafalan yang telah dimiliki kemudian dijaga melalui murojaah secara rutin dalam halaqah, sehingga ayat-ayat yang telah dihafal tetap kuat dan tidak mudah terlupakan. Pada saat yang sama, guru juga membimbing tahsin tilawah, yaitu memperbaiki makhraj, tajwid, dan kelancaran bacaan Al-Qur'an agar setiap anak membaca dengan baik dan benar.
Agar pendampingan benar-benar optimal, setiap halaqah terdiri dari 8–10 siswa yang didampingi oleh satu musyrif atau musyrifah. Dengan jumlah siswa yang terbatas, guru dapat mengenal karakter, kemampuan, dan perkembangan setiap anak secara lebih dekat. Program tahfizh dilaksanakan selama 100–120 menit, sebanyak 4–5 kali setiap pekan, sehingga anak memiliki waktu yang cukup untuk menambah hafalan, menguatkan hafalan lama, sekaligus memperbaiki bacaan. Siswa yang sudah menyelesaikan hafalan 1 juz diwajibkan mengikuti Ujian Kenaikan Juz sebagai syarat melanjutkan hafalan ke juz berikutnya.